Pameran Foto Infinity Kelas Jurnalis Cilik di Cilincing

Jakarta – Komunitas Kelas Jurnalis Cilik (KJC) merayakan hari jadinya yang kedelapan dengan menggelar pameran foto bertajuk Infinity. Pameran yang menampilkan karya-karya fotografi dari anak-anak pesisir Jakarta ini berlangsung di wilayah RW 04, Cilincing, Jakarta Utara.

Sejak didirikan oleh Ilyas, Kelas Jurnalis Cilik telah konsisten memberikan pelatihan jurnalistik dan fotografi bagi anak-anak di berbagai lingkungan RW di Jakarta Utara. Selama delapan tahun, kegiatan ini telah berpindah-pindah lokasi, mulai dari RW 01 hingga RW 13, dan kini kembali ke RW 04 Cilincing sebagai bagian dari perayaan angkatan kedelapan.

Tema Infinity dipilih dengan filosofi yang mendalam. Angka delapan (8) yang melambangkan sewindu perjalanan komunitas ini, secara visual menyerupai simbol tak terhingga (infinity). Tema ini mewakili harapan agar kreativitas dan imajinasi anak-anak usia dini terus berkembang tanpa batas.

Selain pameran foto, acara juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh salah satu jurnalis cilik bernama Mutia yang berjudul “Karyaku”. Puisi tersebut menceritakan pengalamannya menuliskan impian dan harapan masa depan melalui wadah jurnalis cilik.

Pameran ini menampilkan berbagai perspektif unik anak-anak terhadap kehidupan sehari-hari mereka, mulai dari aktivitas di pelabuhan Kalibaru hingga potret teman sebaya. Para pengunjung, termasuk guru-guru dari SDN 01 Kalibaru, turut mengapresiasi teknik pengambilan gambar (angle) yang dihasilkan oleh anak-anak yang dianggap luar biasa dan memiliki karakter kuat.

Kegiatan ini tidak hanya sekadar pameran seni, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan “Ruang Bersama Indonesia” atau kampung yang ramah anak. Dengan melibatkan relawan dari kalangan jurnalis profesional, anak-anak di Cilincing mendapatkan kesempatan langka untuk mengasah literasi dan keterampilan visual di tengah keterbatasan sarana pendidikan formal yang mereka hadapi.

Hemat Sebagai Landasan Kestabilan Finansial

Di tengah gaya hidup yang semakin dinamis dan kebutuhan yang terus meningkat, sikap hemat menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga kestabilan keuangan. Namun, masih banyak yang menganggap hemat sama dengan pelit. Padahal, keduanya memiliki makna yang sangat berbeda. Hemat adalah kemampuan mengelola pengeluaran secara bijak, sementara pelit cenderung menahan pengeluaran bahkan untuk hal yang penting.

Al-Qur’an dan Hadits memberikan panduan yang sangat jelas bahwa pola hidup hemat adalah ciri hamba yang beriman. Sikap boros atau menghamburkan harta untuk hal yang tidak bermanfaat sangat dilarang dalam Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memberikan peringatan keras bahwa orang yang boros adalah saudara setan. Seperti dalam QS. Al-Isra’ayat 27 Allah menjelaskan:

اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

Artinya: Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.

Islam tidak menyuruh umatnya untuk menjadi pelit hingga menyiksa diri sendiri, namun juga melarang hidup bermewah-mewah. Allah memuji orang yang mampu berada di tengah-tengah. Seperti dalam QS. Al-Furqan ayat 67 Allah menjelaskan:

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُوا۟ لَمْ يُسْرِفُوا۟ وَلَمْ يَقْتُرُوا۟ وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Hemat bukan berarti tidak boleh menikmati hidup. Justru, dengan bersikap hemat, seseorang dapat mengatur prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Misalnya, membatasi pembelian barang yang tidak terlalu diperlukan, mengurangi kebiasaan jajan berlebihan, atau memanfaatkan promo dan diskon.

Hidup hemat adalah tentang kesadaran dan disiplin dalam mengelola keuangan. Dengan menerapkan pola hidup hemat, kita tidak hanya menjaga kondisi finansial tetap sehat, tetapi juga belajar untuk lebih menghargai setiap rupiah yang dimiliki. Hemat bukan tentang membatasi diri, melainkan tentang membuat pilihan yang lebih bijak demi masa depan yang lebih terjamin.

Mengembangkan Kreativitas Anak Pesisir Melalui Fotografi

Jakarta – Komunitas Kelas Jurnalis Cilik (KJC) mengadakan hunting foto bagi anak-anak pesisir. Anak-anak antusias memotret kehidupan sehari-hari di pinggiran pantai, menampilkan keindahan alam serta kegiatan masyarakat lokal dalam gambar-gambar yang mereka abadikan. Kegiatan ini diadakan selama 4 bulan dengan pertemuan setiap hari Sabtu di Pesisir Pantai Kalibaru Cilincing (13/7).

Dengan dukungan dari Syamsudin Ilyas, seorang pewarta berpengalaman. Kini Kelas Jurnalis Cilik telah memasuki angkatan ke-7 sejak didirikan tahun 2018. Program ini telah menginspirasi puluhan anak untuk belajar jurnalisme dan fotografi, serta membawa mereka lebih dekat dengan keahlian dalam bidang komunikasi dan dokumentasi.

Kelas Jurnalis Cilik memberikan kesempatan kepada anak-anak pesisir Kalibaru Cilincing, untuk mengeksplorasi kreativitas mereka dalam menulis dan mengambil gambar. Mereka belajar menulis berita tentang lingkungan sekitar mereka, membagikan cerita inspiratif, dan mengambil peran sebagai penyampai informasi bagi komunitas mereka. Kelas ini telah menginspirasi mereka untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mengembangkan keterampilan.

“Kegiatan ini sebagai wadah khususnya bagi anak-anak Kalibaru Cilincing, yang kebetulan saya punya basic foto jurnalistik dan ingin menyalurkan ilmu-ilmu tersebut kepada anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) berupa pembelajaran tentang foto jurnalistik,” kata Syamsudin Ilyas selaku pendiri Kelas Jurnalis Cilik (13/7).

Hunting foto ini sebagai tugas akhir setelah mereka belajar dasar-dasar jurnalisme seperti penulisan berita, wawancara, dan foto jurnalistik. Hasil karya kreativitas mereka, nantinya akan dipamerkan dalam pameran dan menjadi syarat kelulusan dari Kelas Jurnalis Cilik. Karya-karya ini tidak hanya menyoroti keahlian fotografi mereka, tetapi juga cerita-cerita yang mereka dokumentasikan dengan penuh antusiasme dan kecerdasan.